Membangun rumah impian dari nol (from scratch) adalah cita-cita banyak orang. Ada kepuasan tersendiri saat melihat desain di kertas perlahan menjadi bangunan nyata.
Namun, di tahun 2026 ini, tantangannya semakin besar. Kenaikan harga BBM dan inflasi turut mengerek harga bahan bangunan (semen, besi, bata) dan upah tenaga kerja.
Banyak kejadian di mana pemilik rumah kehabisan dana di tengah jalan (mangkrak) karena salah hitung RAB (Rencana Anggaran Biaya).
- Cara Menghitung Volume Pondasi Batu Kali yang Efisien dan Hemat
- Bagaimana Cara Mencari Jasa Arsitek Rumah yang Terpercaya?
- Estimasi Biaya Bangun Rumah 2 Lantai: Tips dan Rinciannya
- Panduan Lengkap Dinding Kamprot: Pengertian, Keunggulan, dan Cara Aplikasinya
- Pembiayaan Renovasi Rumah Syariah: Solusi Terbaik Untuk Percantik Hunian Anda
Agar Anda tidak mengalami mimpi buruk tersebut, Linktown merangkum estimasi biaya bangun rumah 2 lantai terbaru dan perbandingan sistem kerjanya.
Pilih Sistem Kerja: Harian atau Borongan?
Sebelum bicara angka, Anda harus menentukan siapa yang mengerjakannya.
1. Tukang Harian
Sistem: Anda membayar upah tukang per hari (misal: Rp 180.000 – Rp 250.000/orang/hari). Anda yang belanja material sendiri.
Baca JugaKelebihan: Kualitas lebih terjaga karena tukang tidak buru-buru. Anda bisa mengubah desain di tengah jalan (fleksibel).
Kekurangan: Risiko biaya membengkak sangat besar jika tukang bekerja lambat (mengulur waktu). Anda harus mengawasi setiap hari.
2. Sistem Borongan (Kontraktor)
Sistem: Anda membayar harga pasti di awal per meter persegi (sudah termasuk upah + material) atau borong tenaga saja.
Kelebihan: Biaya terkunci di awal (Fixed Cost), tidak akan naik meski pengerjaan molor. Waktu pengerjaan biasanya lebih cepat karena target target selesai.
Kekurangan: Perlu pengawasan ketat pada spesifikasi material agar kontraktor tidak “main curang” menurunkan kualitas demi untung lebih.
Estimasi Biaya Bangun Per Meter Persegi (2026)
Jika Anda memilih sistem Borongan Penuh (Material + Tenaga), berikut adalah kisaran harga pasar di Jabodetabek tahun 2026:
Rumah Standar (Budget Minimalis): Rp 4.500.000 – Rp 5.500.000 / m2
Spesifikasi: Lantai keramik 40×40, dinding hebel cat standar, atap rangka baja ringan + genteng metal pasir, sanitair standar lokal.
Rumah Menengah (Standard Developer): Rp 5.500.000 – Rp 7.000.000 / m2
Spesifikasi: Lantai granit 60×60, dinding cat weathershield eksterior, genteng keramik/beton flat, sanitair sekelas Toto/American Standard.
Rumah Mewah (Luxury): Di atas Rp 8.000.000 / m2
Spesifikasi: Lantai marmer/granit slab besar, kusen aluminium powder coating, smart home system, batu alam, dan desain arsitek rumit.
Simulasi Hitungan Sederhana
Misalkan Anda ingin membangun rumah 2 lantai tipe 80 (Luas Bangunan Total 80 m2) dengan kualitas Menengah.
Rumus: Luas Bangunan x Harga Satuan
Hitungan: 80 m2 x Rp 6.000.000 = Rp 480.000.000
Catatan Penting: Angka ini adalah Biaya Bangunan Saja. Belum termasuk:
Harga Tanah.
Biaya IMB/PBG & Sambung Listrik/PDAM.
Pagar, Kanopi, dan Taman (Eksterior).
Interior (Kitchen Set, Lemari).
Tips Agar Tidak Overbudget
Kunci Desain di Awal: Perubahan denah saat pembangunan berjalan adalah sumber pemborosan terbesar (bongkar-pasang).
Kontrak Tertulis: Jika pakai borongan, pastikan ada SPK (Surat Perjanjian Kerja) yang merinci spesifikasi material merk apa yang dipakai. Jangan mau terima kalimat “Keramik setara Roman”, minta kepastian merk dan serinya.
Membangun sendiri memang memberi kepuasan, tapi membutuhkan waktu, tenaga, dan manajemen stres yang tinggi.
Jika hitungan di atas (Rp 480 Juta + Harga Tanah + Biaya Lain) ternyata lebih mahal daripada membeli rumah jadi, mungkin Anda perlu mempertimbangkan opsi Ready Stock.
Linktown bekerjasama dengan developer yang membangun ribuan unit sekaligus, sehingga biaya bangun mereka jauh lebih efisien (murah) dibanding bangun satuan.
Ingin cek perumahan 2 lantai kualitas “Mewah” tapi harga “Menengah”? Hubungi kami untuk katalog terbaru.

























