Kusen Aluminium vs Kayu: Mana yang Lebih Awet & Hemat Biaya di 2026?

Artikel ini terakhir di perbaharui January 8, 2026 by Amirul Balada
Kusen Aluminium vs Kayu: Mana yang Lebih Awet & Hemat Biaya di 2026?
Man measuring the wall with a measuring tape

Saat membangun atau merenovasi rumah, ada satu perdebatan klasik yang sering bikin pusing pemilik rumah: Pilih Kusen Kayu atau Aluminium?

Dulu, kayu adalah raja. Rumah tanpa elemen kayu dianggap kurang “hangat” dan kurang mewah. Tapi di tahun 2026 ini, tren bergeser drastis. Perumahan modern mulai dari kelas subsidi hingga real estate mewah seperti BSD City mayoritas sudah beralih ke aluminium.

Apakah kayu sudah tamat riwayatnya? Atau aluminium cuma menang murah tapi “murahan”?

Mari kita bedah perbandingannya secara apple-to-apple dari segi ketahanan, estetika, dan tentu saja: isi dompet.

1. Faktor Musuh Alami: Rayap & Cuaca

Di iklim tropis Indonesia yang lembap, kayu punya musuh abadi: Rayap dan Muai-Susut.

2. Faktor Estetika: Hangat vs Dingin

Di sini kayu membalas kekalahannya.

  • Kayu: Memberikan kesan homey, hangat, klasik, dan natural. Serat kayu asli memiliki seni yang tidak bisa ditiru mesin. Rumah dengan kusen kayu terasa lebih “bernyawa”.

  • Aluminium: Sering dianggap kaku, dingin, dan “kantoran”. Meskipun sekarang sudah ada aluminium motif serat kayu (wood grain), rasanya tetap beda saat disentuh. Jika konsep rumah Anda etnik atau klasik Jawa, aluminium akan terlihat aneh (“jomplang”).

3. Perbandingan Biaya (The Real Deal)

Mana yang lebih bikin kantong jebol? Mari kita hitung estimasi kasar per tahun 2026:

  • Kusen Kayu (Kamper Samarinda Oven): Kisaran Rp 150.000 – Rp 250.000 per meter lari.

    • Belum termasuk: Biaya finishing (plitur/melamik) yang mahal dan upah tukang pasang yang lama.

  • Kusen Aluminium (Merek Standar 4 inch): Kisaran Rp 100.000 – Rp 180.000 per meter lari.

    • Kelebihan: Harga biasanya sudah all-in (termasuk pasang). Pemasangan sangat cepat, sehari bisa selesai satu rumah.

Kesimpulan Biaya: Aluminium lebih hemat sekitar 20-30% dibanding kayu kualitas menengah (Kamper). Jika dibandingkan dengan kayu Jati, aluminium bisa hemat sampai 50%.

4. Perawatan (Maintenance)

  • Kayu: “Manja”. Wajib dicat ulang atau di-plitur setiap 3-5 tahun agar warnanya tidak pudar dan kayunya tidak lapuk.

  • Aluminium: “Badak”. Cukup dilap kain basah kalau berdebu. Tidak perlu dicat ulang seumur hidup (selama tidak penyok kena benturan keras).

Rekomendasi: Mana Pilihan Anda?

  • Pilih KAYU jika: Budget Anda melimpah, Anda mengejar estetika/seni, konsep rumah Klasik/Tropis, dan siap melakukan perawatan rutin anti-rayap.

  • Pilih ALUMINIUM jika: Anda kaum mendang-mending yang cari praktis, budget terbatas, konsep rumah Minimalis/Industrial, dan ingin rumah yang maintenance-free (bebas perawatan).

Di era modern 2026, Aluminium adalah pilihan paling rasional untuk mayoritas orang. Namun, kayu tetap punya tempat di hati pecinta seni. Sedang mencari rumah second tapi takut kusennya sudah dimakan rayap? Atau cari rumah baru yang spesifikasinya sudah full aluminium mewah?

Jangan beli kucing dalam karung. Tim Linktown siap menemani Anda survei dan mengecek detail spesifikasi bangunan—mulai dari kusen, atap, hingga pondasi—agar Anda tidak menyesal di kemudian hari.