Gading Serpong vs BSD City 2026: Mana yang Menghasilkan “Uang Sewa” Lebih Deras?

Artikel ini terakhir di perbaharui February 11, 2026 by Amirul Balada
Gading Serpong vs BSD City 2026: Mana yang Menghasilkan “Uang Sewa” Lebih Deras?

Jika Anda punya uang “dingin” Rp 2-3 Miliar di tahun 2026 dan ingin memarkirkannya di Tangerang, pasti galau memilih dua raksasa ini: Gading Serpong (GS) atau BSD City.

Secara visual, BSD menang telak. Jalanannya lebar, trotoarnya nyaman, tata kotanya seperti Singapura. Gading Serpong? Agak macet, padat, dan semrawut di jam sibuk. TAPI, dalam hukum investasi properti, kenyamanan mata tidak selalu berbanding lurus dengan ketebalan dompet.

Data internal Linktown menunjukkan anomali menarik di tahun 2026: Meski BSD lebih prestisius, ternyata Gading Serpong adalah “Raja Cashflow”. Kenapa bisa begitu? Mari kita bedah Yield-nya.

Gading Serpong: The Cashflow Machine (Yield 6% – 9%)

Kekuatan utama GS adalah Kepadatan (Density). Dengan adanya kampus-kampus besar (UMN, Pradita, Matana) dan pusat kuliner yang tidak pernah tidur (area Maggiore, Pisa Grande), permintaan sewa di sini sangat “ganas”.

  1. Pasar Kost & Ruko: Ini primadonanya. Ruko di GS bukan cuma buat kantor, tapi disulap jadi indekos premium atau cloud kitchen.

  2. Siapa Penyewanya? Mahasiswa dan young professionals yang butuh hidup praktis. Mereka tidak butuh taman luas, mereka butuh walking distance ke tempat makan dan kampus.

BSD City: The Capital Gain King (Yield 3% – 5%)

BSD bermain di liga yang berbeda. Target pasarnya adalah keluarga mapan, ekspatriat (kawasan Green Office Park/Digital Hub), dan pensiunan.

  1. Pasar Sewa Rumah Tapak: Biasanya disewa oleh keluarga muda atau ekspat Jepang/Korea.

    • Harga Sewa: Mahal secara nominal (misal Rp 70-100 Juta/tahun).

    • Yield: Jika dibandingkan harga belinya yang sudah sangat tinggi (di atas Rp 3-4 Miliar), persentase yield-nya “hanya” di angka 3% – 5%.

  2. Kekuatan Utama: Penyewanya lebih awet (sewa tahunan, bukan bulanan). Dan yang paling penting: Kenaikan Harga Tanah (Capital Gain) di BSD jauh lebih stabil dan tinggi dibanding GS yang sudah jenuh lahannya.

Head-to-Head Simulasi 2026

Mari kita adu dengan modal yang sama: Rp 3 Miliar.

  • Skenario A (Beli di Gading Serpong): Dapat Ruko 3 Lantai second atau Rumah Cluster secondary yang direnovasi jadi kost-kostan 10 kamar.

    • Pendapatan Sewa: Rp 250 Juta / tahun (kotor).

    • Repotnya: Tinggi (harus urus penjaga, listrik air, komplain anak kost).

    • Cuan: Cashflow Bulanan Deras.

  • Skenario B (Beli di BSD City): Dapat Rumah Cluster brand new di area pengembangan baru (BSD Tahap 3).

    • Pendapatan Sewa: Rp 100 Juta / tahun (dikontrakkan kosong).

    • Repotnya: Rendah (tinggal terima kunci setahun sekali).

    • Cuan: Aset Masa Depan. 5 tahun lagi harganya mungkin naik jadi Rp 4,5 Miliar.

Verdict Linktown: Pilih Sesuai Nafsu Makan

  • Pilih Gading Serpong jika Anda butuh Passive Income Bulanan untuk biaya hidup atau bayar cicilan bank. Anda harus siap sedikit repot mengelola penyewa.

  • Pilih BSD City jika Anda tipe investor “beli lalu lupakan” (sleeping investor). Anda tidak butuh uang sewanya sekarang, tapi Anda mengincar “Jackpot” kenaikan harga saat tol-tol baru (Serpong-Balaraja) tersambung penuh nanti.


Kesimpulan: Jangan memaksakan beli di BSD kalau napas Anda pendek (butuh cashflow). Dan jangan beli di GS kalau Anda alergi macet. Kenali profil risiko Anda, baru tanda tangan PPJB.